...About This Life...

26 Februari 2009
Sensasi dalam Sebelas Menit

Bagi seorang perempuan, cinta seringkali hanya menimbulkan sebuah penderitaan, luka dan cacat dalam kehidupan. Cinta yang semula begitu agung, sakral, suci dan dimuliakan oleh kebanyakan manusia, terkadang menjadi realitas yang menyedihkan dan ditakuti oleh sebagian orang, khususnya kaum perempuan. Para perempuan yang seharusnya layak dan berhak untuk sekadar mendapatkan kebahagiaan dari kaum lelaki, ternyata tak selalu mendapatkan apa yang mereka harapkan. Sesungguhnya, kebahagiaan dan cinta sejati bagi perempuan hanya berada pada alam maya yang tidak pernah menemukan kata pasti. Lantas, bagaimana perempuan memaknai "cinta dan kebahagiaan"? Apakah cinta yang seringkali berwujud simbol penyatuan fisik; "Seks" di antara dua jenis gender mampu menembus batas makna kesakralannya? Pertanyaan-pertanyaan ini akan kita temukan jawabannya dalam Novel Eleven Minutes karangan Paulo Coelho.
*****
Apakah menjadi pelacur adalah sebuah pilihan hidup? Mungkin itu yang menjadi pertanyaan Maria seorang gadis asal Brasil yang menjadi lakon dalam Novel Eleven Minutes tersebut. Eleven Minutes adalah sebuah kisah cinta ala “Pretty Woman” dalam rekaan pengarang novel best seller Paulo Coelho. Cerita dalam novel ini memang sedikit berbeda dengan Novel Paulo Coelho sebelumnya seperti “The Alchemist,” karena tema yang diangkat dalam Eleven Minutes adalah tema orang dewasa yaitu seputar persetubuhan, judul Eleven Minutes atau Sebelas menit sendiri mengarah pada durasi rata-rata perbuatan tersebut dilakukan. Namun bukan berarti Eleven Minutes ini hanya melulu membahas seputar hubungan badan saja, tapi juga membahas mengenai cinta, kehidupan dan tentu saja tema favorit Coelho yaitu seputar mimpi-mimpi.

Kisah ini tentang kehidupan seorang gadis lugu bernama Maria yang mempunyai cita-cita dan mimpi untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Maria tinggal di sebuah desa kecil di Brasil dan sejak remaja dia begitu yakin tidak akan pernah menemukan cinta sejati dalam kehidupannya..
Suatu saat ketika dia berhijrah ke kota dia bertemu dengan seseorang yang secara kebetulan di Rio de Janeiro berjanji akan menjadikannya aktris terkenal di Swiss. Namun, terkadang kenyataan berbeda dengan harapan. Janji itu ternyata palsu dan bohong belaka. Kenyataannya, Maria dihadapkan dengan lika-liku kehidupan yang membuatnya untuk memilih jalan hidup yang tidak sesuai dengan keinginannya. Ia harus menjual diri untuk bertahan hidup. Maka, dengan sepenuh kesadaran ia memilih untuk menjalani profesi sebagai pelacur dengan harapan, ia mampu mendapatkan kebahagiaan dan cinta sejati yang selalu diidam-idamkan oleh setiap wanita. Ternyata, pekerjaan ini semakin menjauhkannya dari cinta sejati. Meskipun semula ia begitu yakin bahwa ia dapat secara mudah berhenti kapan saja untuk menjalani profesi hina itu, ternyata ia sulit melakukannya. Padahal, ia sangat berharap, kelak dapat hidup secara normal dengan menjadi seorang istri dari seorang suami yang sangat mencintainya dan seorang ibu dari anak-anak yang terlahir dari rahimnya.

Pengalaman demi pengalaman yang ditemuinya jauh dari apa yang selama ini diangankannya. Berkali-kali ditipu, gagal, kecewa, putus asa, menjadikan sosok Maria yang tadinya lugu, mulai bermetamorfosa jadi seseorang yang demikian lihai mengolah perasaannya. Maria sangat pandai menjaga hatinya untuk tidak jatuh cinta, hingga akhirnya bertemu dengan seniman pelukis bernama Ralf yang menurut penilaian Maria mempunyai kepribadian unik dan beda sekali dengan pria-pria lainnya. Ralf mulai memasuki hidupnya, tameng-tameng emosional, keyakinan Maria pun diuji. Dia mesti memilih untuk terus menjalani kehidupan gelap itu, atau mempertaruhkan segalanya demi menemukan "cahaya di dalam dirinya". Mampukah dia beralih dari sekadar penyatuan fisik ke penyatuan dua pikiran atau dua jiwa---ke suatu tempat di mana seks merupakan sesuatu yang sakral?

Yang paling menarik dalam buku ini adalah proses pencarian jati diri Maria yang memulai segalanya dari nol. Ceritanya terkesan lebih natural, apalagi tulisan-tulisannya dan pemahaman tentang cinta, kehidupan, dan seks yang sangat lugas tapi tidak terkesan vulgar. Dalam novel ini, Coelho kembali menggambarkan tokoh utamanya sebagai seseorang manusia yang gemar berpetualang untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dan menyajikan kisah kehidupan manusia yang penuh dengan inspirasi dan pencerahan. Sungguh berbeda memang dengan novel-novel sebelumnya karena Paulo Coelho menantang segala prasangka kita, membuka pikiran kita dan membuat kita benar-benar terperangah. Lewat sosok Maria, Paulo Coelho ingin menunjukkan pada kita akan keberadaan cinta sejati dan makna seks yang seringkali dianggap tabu untuk dimengerti. Menurut Paulo Coelho, kenikmatan seks yang hanya bertahan selama 11 Menit dalam sehari ternyata merupakan esensi dari perjalanan kehidupan manusia yang panjang. Aktivitas kehidupan dalam sehari yang tersusun dari 24 Jam atau 1440 Menit ternyata menemukan makna kehakikian ketika manusia tenggelam dalam sensasi aktivitas seks yang hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 11 Menit. Di sebelas menit inilah, manusia berada pada puncak kesadaran dan naluri kemanusiaannya. Puncak penyatuan dua fisik dan jiwa. Setidaknya, novel ini adalah jalan bagi kita untuk lebih bisa memaknai cinta dengan makna kehakikiannya. Membaca novel ini, kita diajak untuk terus berada pada alur pencarian cinta dan kebahagiaan yang sejati.
**********

Label: , , , ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/26/2009 10:08:00 PM   1 comments
14 Februari 2009
Mentariku...

Tak ada kata yang bisa terucap ketika kau menatapku

Kaulah yang mampu membuatku merasa nyaman ketika berada disampingmu

Hanya kau yang bisa membuat rasa tak ada menjadi ada

Mentariku...biarkan aku menjadi setitik awan kecil dilangit bersamamu.

Label: , , ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/14/2009 11:32:00 PM   4 comments
12 Februari 2009
Antara Aku, Dirimu, dan Dirinya...

Tidak biasanya Mira dibuat menunggu oleh sahabatnya Adit, apalagi di sebuah acara penting seperti saat ini.
“Maaf membuatmu menunggu Mira. Aku terlambat karena bangun kesiangan, semalam aku tak bisa tidur.”
Itu yang dikatakan Adit pagi ini. Tidak biasanya dia seperti ini. Matanya tampak lelah, mukanya kuyu dan pucat. Sebagai sahabatnya Mira sangat mengenal Adit. Akhir-akhir ini Mira melihat Adit bukanlah seperti Adit yang Mira kenal.
“Iya, tidak apa Dit. Acara juga belum dimulai dan tamu-tamu pun baru sebagian yang datang. Kamu kenapa Dit, kok semalam tidak bisa tidur?”
Tapi Adit tidak bisa menjawab, dia hanya diam dan mengalihkan pembicaraan.
“Yuk, Mir tuh tamunya sudah banyak yang datang. Kita masuk saja, yuk?” Ajak Adit.
Mira tetap tak mengerti dengan sahabatnya kali ini, dalam hatinya Mira tetap bertanya-tanya karena selama ini Adit selalu cerita tentang apapun kepadanya begitu juga Mira kepada Adit. Kapanpun dan dimanapun mereka selalu berbagai cerita. Namun hanya ada satu rahasia yang tidak diketahui Adit dari Mira, yaitu tentang perasaan Mira kepada Adit karena sebenarnya Mira menyimpan perasaan kepada Adit dan perasaan itu tidak sekedar rasa kagum atau suka.

***
Selama acara berlangsung Mira tidak bisa konsentrasi dia gelisah, bertanya dan berusaha menduga apa yang membuat sahabatnya jadi berbeda. Berkali-kali dia melihat ke arah Adit dan Adit pun sepertinya juga gelisah. Setelah acara usai Mira mendekati Adit.
“Dit, setelah ini mau kemana kamu?”
“Mau makan siang laper nih , ikut aku yuk?”
“Okey deh!”
“Eh, tapi jangan lupa hari ini giliran kamu lho yang bayar makan siang kita,” Canda Adit ke Mira.
“Uh...kamu tuh ngajak-ngajak makan tapi aku yang harus bayar”
“Hehehe...,” Canda Adit sambil senyum kuda ke arah Mira.
Mereka akhirnya memilih makan siang di warung sate langganan mereka. Sambil menunggu pesanan, Mira mencoba membuka sebuah obrolan.
“Dit, mukamu kok butek banget sih hari ini, kamu belum mandi ya pagi ini karena bangun kesiangan?” tanya Mira.
“Enak aja, biar aku bangun kesiangan aku tetap mandilah...”
“Lha terus kenapa dong kok kamu jadi beda hari ini? Nggak punya duit? Atau jangan-jangan habis ditolak cewek ya?”
“Ah kamu sok tahu...”
“Lha memang aku nggak tahu kok! Makanya cerita dong?”
“Ntar deh, habis makan aku ceritain”
“Bener ya, jangan ngeles lagi?”
“Oke...Oke...Tuh satenya udah datang, kita makan dulu. Apalagi aku nggak mau melewatkan makan siang gratis kali ini,” Sambil nyengir ke arah Mira.

***
“ Aku mau cerita nih Mir? Kenapa semalam nggak bisa tidur. Sebenarnya aku lagi kesel dan kecewa banget karena aku dikhianati sama pacarku”
Deg..Mira begitu kaget dengan pernyataan Adit. Pacar...kapan Adit punya pacar? Kenapa dia nggak pernah cerita padanya padahal setahu Mira selama ini Adit belum punya pacar. Mendengar semua yang barusan dikatakan Adit membuat Mira kecewa tapi Mira berusaha menenangkan dirinya untuk mendengarkan cerita Adit.
“Kamu jahat Dit, kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya pacar bahkan aku nggak tahu siapa cewek yang bikin bertekuk lutut itu?”
“Haiyah, Mir kamu tahu dan kenal kok siapa dia. Cewek itu Alin.”
“Alin...? Ya...ya...aku tahu, tapi apa yang membuatmu kecewa terhadapnya?” tanya Mira mencari tahu.
“Aku tak sengaja membaca SMS dari mantan pacarnya di handphone nya. Ternyata mereka masih berhubungan tanpa sepengetahuanku. Sebenarnya sejak awal pacaran aku sudah ada feeling kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan Alin itu dan kalau kamu mau tahu sebenarnya dialah yang mendekati dulu dan memintaku menjadi pacarnya, tapi ketika aku berusaha menyayanginya dan memberi kesempatan kepadanya untuk menjadi pacarku dia malah mengecewakanku dengan cara seperti itu. Kini aku sudah kecewa dan tidak percaya lagi sama dia.”
Mendengar penuturan dari Adit yang panjang lebar itu Mira jadi tidak tahu harus senang atau kecewa mendengar kisah cinta sahabatnya itu. Di satu sisi Mira ikut sedih karena sahabatnya kecewa, tapi di sisi lain Mira juga lega karena Adit telah kecewa dengan Alin.
“Sudahlah Dit, bagaimanapun dia pacarmu dan kamu harus memaafkan dia karena dia kan udah minta maaf sama kamu.” Saran Mira kepada Adit.
Walaupun Mira punya perasaan lain kepada Adit, Mira tetap ingin memberikan Adit dukungan untuk memutuskan jalan yang terbaik atas hubungannya dengan Alin.
“Soal memaafkan, aku sudah memaafkannya Mir, tapi aku sudah kecewa dan terluka. Aku tidak percaya lagi dengan dia. Ya...coba lihat nantilah Mir? ”

***
Esoknya ketika Adit bertemu Mira. Mira melihat raut muka Adit sudah agak berubah tidak seperti kemarin.
“Hai Mir, aku mau cerita sama kamu lagi nih?”
“Soal apa, Dit?”
“Kelanjutan kisah yang kemarin”
“Gimana akhirnya?” tanya Mira sambil di dalam hatinya was-was menunggu jawaban Adit.
“Aku sudah memberi ketegasan kepada Alin untuk tidak melanjutkan hubungan ini. Aku sudah putus dengannya semalam. Dan keputusanku itu sudah tidak bisa diganggu gugat.”

*******

Label: ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/12/2009 11:05:00 PM   2 comments
10 Februari 2009
Semua Sudah Berlalu


Agni duduk di sebuah kafe yang sudah lama sekali tak ia kunjungi. Kafe ini tak banyak berubah hanya penataan perabotannya saja yang berbeda. Sebenarnya kalau bukan ingin menepati janji untuk bertemu temannya di kafe ini Agni tak ingin datang ke kafe ini lagi, karena itu sama saja membangunkan kenangan yang telah lama ia kubur bersama waktu. Tiba-tiba ada suara yang berasal dari arah belakang mengagetkannya. Suara dengan intonasi yang sama dan helaan nafas yang berat karena mungkin nikotin telah memberatkan paru-parunya serta bau parfum yang tidak asing di bagi Agni.

“Halo, apa kabar?”

Muka Agni langsung pucat pasi ketika orang itu sudah ada didepannya, jantungnya berdegup aneh, tubuhnya seketika menjadi panas dan tangannya menjadi dingin, sensasi dan reaksi yang tidak biasanya dia rasakan. Apakah rasa benci yang begitu dalam atau perasaan lain yang membuat jantungnya berdetak tidak normal seperti ini? Orang itu langsung menjabat tangannya dan tanpa disadari Agni mengulurkan tangannya.

“Baik,” jawab Agni.

“Sudah lama ya kita tidak bertemu?”

“Ah, kata-kata yang terlalu biasa dan sangat basi,” batin Agni.

Agni tidak ingin menatap wajah orang didepannya itu, tapi dari ekor matanya Agni melihat wajah yang sangat familiar dan tidak banyak berubah hanya kelihatan kurus dan matanya tampak cekung. Orang itu adalah Arka. Arka adalah bagian dari masa lalu Agni. Orang yang pernah singgah dan mungkin bisa di bilang hanya numpang lewat di dalam kehidupan Agni. Tapi kesan dan kenangan yang Arka tinggalkan di hati Agni tidak mudah Agni lupakan begitu saja meskipun Agni berusaha melupakannya. Agni tidak pernah lupa betapa khilafnya dia bisa jatuh cinta dengan Arka. Mungkin dulu Agni masih naif dan terlalu bodoh sehingga bisa dibohongi dan akhirnya bisa jatuh cinta dengan Arka. Mungkin pada waktu itu Agni belum bisa membedakan dan mengerti mana orang yang punya niat tulus dan pura-pura baik kepadanya.

“ Kemana saja? Aku kehilanganmu, aku mencari tahu tentang keberadaanmu lewat teman-temanmu yang biasa datang kesini tapi mereka juga tidak tahu tentangmu dan kamu benar-benar melupakanku. ”

“Sudah seharusnya seperti itu, bukan? Dan memang sepantasnya aku harus menghindarimu dan menjauhimu karena aku memang tak pantas untuk dirimu, tapi tepatnya kamu yang tak pantas untuk diriku”

“Kamu sekarang tampak beda, kamu berubah”

“Maaf, mungkin hanya perasaanmu saja. Aku tetap diriku yang dulu aku tak pernah merasa berubah, kecuali ada sesuatu yang membuatku berubah.”

“Agni, aku tak bisa melupakanmu?”

“Kenapa kau tak bisa melupakanku? Aku kan hanya sesaat ada di hidupmu dan mungkin tidak berarti bagi hidupmu.”

“Tapi aku memang tidak bisa melupakanmu dan kamu bukan sesuatu yang sesaat di dalam hidupku.”

“Lalu apa alasanmu tidak bisa melupakanku? Dalih apa yang akan kau katakan kepadaku? Apa karena kau pernah bilang sayang padaku? Apa karena kau pernah bilang kau jatuh cinta padaku? Maaf aku tak tersentuh bahkan aku sangsi dengan perasaan sejatimu dulu. Bagaimana mungkin kau bilang menyayangiku sedangkan disisimu sudah ada perempuan lain yang lebih berhak. Asal kau tahu saja, aku bukan perempuan seperti Nina, Eni, Tania, April, Nita, Rosi dan atau perempuan lain yang mungkin juga pernah kau singgahi dan kemudian kau ceritakan kisahmu dengan mereka kepada orang-orang.”

“Maafkan aku karena tak bisa membuktikannya kepadamu karena aku merasa bersalah padamu.”

“ Yah, aku tahu kenapa kau merasa bersalah padaku karena kau telah menorehkan luka dihatiku yang polos. Tapi aku tidak bodoh, aku orang yang realistis, aku tak mau menjalani hubungan yang tidak jelas dan tidak pasti, hubungan yang kita jalani dulu bukan hubungan yang aku inginkan. Kamu pikir kata sayang saja cukup untuk mengukur kesungguhanmu padaku tanpa ada bukti nyata? Nope, Arka!”

“Tapi kamu dulu juga bilang kalau kau mencintaiku.”

“Betul, dulu memang aku mencintaimu. Namun akhirnya aku capek karena kau mempermainkanku sehingga kulepaskan semua perasaanku. Arka, semua kini telah berakhir, cinta kita telah usai, dan semuanya kini sudah berlalu dan terkubur bersama waktu. Aku punya kehidupan baru yang lebih berarti dan lebih pasti”

“Agni, apakah masih ada tempat untukku dihatimu?”

“Masih ada, kau tak perlu kuatir tentang itu karena aku masih peduli kepadamu sebagai teman, dan tetap menganggapmu sebagai kakakku.”

“Apakah sudah ada yang lain? Siapa lelaki yang beruntung itu?”

“Ya, sudah dan aku mencintainya. Aku tak tahu apa dia lelaki yang beruntung mendapatkanku, tapi aku merasa beruntung mendapatkannya. Dan apakah aku akan bersamanya untuk selamanya? Itu hanya Tuhan yang tahu tentang itu. Maaf, Arka aku harus pamit itu temanku sudah datang dan aku harus menemuinya.”

Ketika Agni pergi meninggalkan tempat itu Agni tidak tahu reaksi apa yang terjadi pada Arka. Tapi Agni berharap semoga tidak ada beban lagi antara dia dengan Arka. Dan semoga apa yang pernah dia lalui bersama Arka bisa menjadi pelajaran hidupnya.



Label: , ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/10/2009 12:59:00 AM   3 comments
Si Penjaga Hati...(Part II)
Gadis itu tetap tak tahu hingga dia tak mempedulikan waktu yang berputar dan ruang dimana dia berada. Gadis itu tetap setia dan tetap menjaga hati itu tanpa tahu siapa pemilik hati yang Dewa titipkan padanya. Namun suatu hari, ketika dia duduk menikmati udara sore di taman kota, tempat dimana dia dulu dia menerima hati itu dari sang mahluk asing yang tak tahu darimana mahluk itu berasal. Dari tempat yang tak jauh dimana si gadis sedang duduk, ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan si gadis.

Lelaki itu memperhatikan wajah si gadis dari kejauhan sambil menerawang. Dalam alam pikir lelaki itu, dia mengingat-ingat karena ada sesuatu yang sepertinya pernah dia rasakan dan dia alami bersama si gadis di tempat ini. Tempat ini, taman kota ini, sepertinya dia merasa pernah kesini, tapi dia lupa kapan dia pernah kesini dan bersama gadis itu pastinya. Padahal dalam kenyataannya lelaki itu baru kali ini singgah di taman kota ini. Lelaki itu adalah seorang petualang yang sedang beristirahat dari perjalanan panjangnya. Dia memang senang bertualang, sudah ratusan negeri dan kota dia singgahi. Ada perjumpaan dan perpisahan dia alami dalam petualangannya itu, tapi suasana di taman kota ini, pohon akasia, pohon perdu, bunga matahari, dan kolam ikan yang menghiasi taman kota ini tidak asing bagi dia. Dia merasa pernah merasakan hal ini pada waktu yang lalu. Apa dia tengah bermimpi? Lelaki itu mencoba mencubit tangannya, tapi...ah sakit! Ternyata dia tidak sedang bermimpi. Apa ini yang dinamakan dejavu, yah...dejavu dan kini dia mengalaminya secara nyata di sore ini. Merasakan sesuatu yang pernah dia rasakan sebelumnya.

Lelaki itu masih mengamati pola tingkah si gadis dari kejauhan. Gadis itu sedang duduk sambil membaca buku dengan menyilangkan kakinya, sebentar-sebentar Gadis itu menyilakkan poninya yang tertiup angin sehingga menutupi arah matanya ke buku yang tengah dibacanya. Gadis itu tak tahu bahwa dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengamatinya.

Lelaki itu akhirnya meninggalkan taman kota itu karena hari semakin petang dan dia harus mencari tempat peristirahatan untuk singgah beberapa hari di kota ini. Tapi ketika dia menengok kembali ke arah dimana si gadis duduk tadi ternyata gadis itu sudah tidak ada disana. Dimana...dimana perginya gadis itu tadi? Dan mengapa aku merasa kehilangan gadis itu?

***
to be continued...

Label: , ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/10/2009 12:26:00 AM   1 comments
03 Februari 2009
Si Penjaga Hati

Ada seorang gadis yang sedang duduk sendiri sambil menangis di sebuah taman kota. Tak ada yang tahu apa yang membuatnya menangis. Tapi tiba-tiba muncul sesosok mahluk kecil bersayap didepannya.
Gadis itu kaget. “ Hai, siapa kau? Kau datang darimana? Kenapa tiba-tiba muncul didepanku?,” tanya gadis itu sambil menyeka air matanya.
“Kau tak perlu takut padaku gadis dan kau tak perlu tahu aku datang darimana, karena aku menghampirimu atas perintah Dewa yang sejak dari tadi memperhatikanmu dari atas sana. Dewa mengirimku untuk memohon sesuatu darimu dan kuharap kau mau mengabulkan permintaannya.”
“Dia memintaku untuk apa? Aku hanya seorang gadis biasa yang tak tahu apa-apa”, tegas gadis itu.
“Dewa menginginkanmu untuk menjaga hati ini,” kata mahluk asing itu.
“ Hati...hati milik siapa ini? Katakan pada Dewamu kalau aku tak bisa mengabulkan permintaannya, karena aku pun saat ini sedang dilanda masalah.”
“ Aku pun tak tahu gadis, karena Dewa hanya menyuruhku untuk membawa hati ini kepadamu. Tapi katanya, kaulah yang mampu melaksanakan tugas ini. Aku juga tak tahu apa alasan Dewa memilihmu. Dewa hanya mengatakan, bahwa kau akan mengerti suatu saat nanti. Tolong terimalah hati ini dan jagalah dengan sebaik-baiknya.”

Setelah gadis itu menerima hati yang diberikan mahluk asing itu, tiba-tiba mahluk asing itu menghilang dalam sekejap. Gadis itu bingung, dia hanya bisa memeluk hati itu dan membawanya kemana pun dia pergi tanpa mengerti maksud sebenarnya, mengapa dia harus menjaga hati itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, gadis itu masih menjaga hati itu dalam dekapannya. Waktu telah menggerus segalanya, dan tanpa gadis itu sadari hati itu telah menyatu dengan hatinya. Dengan setia gadis itu menjaganya. Namun, gadis itu tetap tak tahu mengapa dia harus menjaga hati ini dan milik siapa hati ini.

Dalam batin si gadis bertanya, “ Mengapa aku harus menjaga hati ini? Mengapa aku masih mendekapnya di dalam dekapanku? Apa aku terlanjur mencintai hati ini? Apa aku terlanjur setia kepada hati ini? Hingga seolah-olah aku tak lagi mempersoalkan mengapa Dewa menitipkannya padaku. Apa karena cintakulah hati ini tetap kujaga? Dan dengan alasan kepedulianku aku masih menjaga hati ini?”

To be continued...

Label: , ,

posted by ANGGUN PUSPITA @ 2/03/2009 12:27:00 AM   4 comments
My Life is My Love, My Happiness, My Pain, My Soul, My Dreams and My Imagine...
The Real Me

It's Me: ANGGUN PUSPITA
Live at: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
Just to Say: Saya orang yang apa adanya dan ga suka yang neko-neko...saya tidak peduli dengan penilaian atau yang orang pikirkan tentang saya, karena saya hidup tidak dengan penilaian mereka.That's it!!
Let's See My Profile
..QUOTES..

Life is a blank page. Each person holds their pen and writes their own story.

..My Mood..
My Unkymood Punkymood (Unkymoods)
..Anggun's Facebook..
Profil Facebook Anggun Puspita
Story Box
Turn Back Time
Partnership Link
My Favorite
Recent Comments
COMMENT, PLEASE...???

ShoutMix chat widget
My Heart Singing


MusicPlaylist
Music Playlist at MixPod.com

Site Meter
Go To Chat
Idwebtemplate.com
Virgo for Today
Guest From...
Powered by

BLOGGER