Gadis itu tetap tak tahu hingga dia tak mempedulikan waktu yang berputar dan ruang dimana dia berada. Gadis itu tetap setia dan tetap menjaga hati itu tanpa tahu siapa pemilik hati yang Dewa titipkan padanya. Namun suatu hari, ketika dia duduk menikmati udara sore di taman kota, tempat dimana dia dulu dia menerima hati itu dari sang mahluk asing yang tak tahu darimana mahluk itu berasal. Dari tempat yang tak jauh dimana si gadis sedang duduk, ada seorang lelaki yang sedang memperhatikan si gadis.
Lelaki itu memperhatikan wajah si gadis dari kejauhan sambil menerawang. Dalam alam pikir lelaki itu, dia mengingat-ingat karena ada sesuatu yang sepertinya pernah dia rasakan dan dia alami bersama si gadis di tempat ini. Tempat ini, taman kota ini, sepertinya dia merasa pernah kesini, tapi dia lupa kapan dia pernah kesini dan bersama gadis itu pastinya. Padahal dalam kenyataannya lelaki itu baru kali ini singgah di taman kota ini. Lelaki itu adalah seorang petualang yang sedang beristirahat dari perjalanan panjangnya. Dia memang senang bertualang, sudah ratusan negeri dan kota dia singgahi. Ada perjumpaan dan perpisahan dia alami dalam petualangannya itu, tapi suasana di taman kota ini, pohon akasia, pohon perdu, bunga matahari, dan kolam ikan yang menghiasi taman kota ini tidak asing bagi dia. Dia merasa pernah merasakan hal ini pada waktu yang lalu. Apa dia tengah bermimpi? Lelaki itu mencoba mencubit tangannya, tapi...ah sakit! Ternyata dia tidak sedang bermimpi. Apa ini yang dinamakan dejavu, yah...dejavu dan kini dia mengalaminya secara nyata di sore ini. Merasakan sesuatu yang pernah dia rasakan sebelumnya.
Lelaki itu masih mengamati pola tingkah si gadis dari kejauhan. Gadis itu sedang duduk sambil membaca buku dengan menyilangkan kakinya, sebentar-sebentar Gadis itu menyilakkan poninya yang tertiup angin sehingga menutupi arah matanya ke buku yang tengah dibacanya. Gadis itu tak tahu bahwa dari kejauhan ada seseorang yang sedang mengamatinya.
Lelaki itu akhirnya meninggalkan taman kota itu karena hari semakin petang dan dia harus mencari tempat peristirahatan untuk singgah beberapa hari di kota ini. Tapi ketika dia menengok kembali ke arah dimana si gadis duduk tadi ternyata gadis itu sudah tidak ada disana. Dimana...dimana perginya gadis itu tadi? Dan mengapa aku merasa kehilangan gadis itu?
Ada seorang gadis yang sedang duduk sendiri sambil menangis di sebuah taman kota. Tak ada yang tahu apa yang membuatnya menangis. Tapi tiba-tiba muncul sesosok mahluk kecil bersayap didepannya. Gadis itu kaget. “ Hai, siapa kau? Kau datang darimana? Kenapa tiba-tiba muncul didepanku?,” tanya gadis itu sambil menyeka air matanya. “Kau tak perlu takut padaku gadis dan kau tak perlu tahu aku datang darimana, karena aku menghampirimu atas perintah Dewa yang sejak dari tadi memperhatikanmu dari atas sana. Dewa mengirimku untuk memohon sesuatu darimu dan kuharap kau mau mengabulkan permintaannya.” “Dia memintaku untuk apa? Aku hanya seorang gadis biasa yang tak tahu apa-apa”, tegas gadis itu. “Dewa menginginkanmu untuk menjaga hati ini,” kata mahluk asing itu. “ Hati...hati milik siapa ini? Katakan pada Dewamu kalau aku tak bisa mengabulkan permintaannya, karena aku pun saat ini sedang dilanda masalah.” “ Aku pun tak tahu gadis, karena Dewa hanya menyuruhku untuk membawa hati ini kepadamu. Tapi katanya, kaulah yang mampu melaksanakan tugas ini. Aku juga tak tahu apa alasan Dewa memilihmu. Dewa hanya mengatakan, bahwa kau akan mengerti suatu saat nanti. Tolong terimalah hati ini dan jagalah dengan sebaik-baiknya.”
Setelah gadis itu menerima hati yang diberikan mahluk asing itu, tiba-tiba mahluk asing itu menghilang dalam sekejap. Gadis itu bingung, dia hanya bisa memeluk hati itu dan membawanya kemana pun dia pergi tanpa mengerti maksud sebenarnya, mengapa dia harus menjaga hati itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, gadis itu masih menjaga hati itu dalam dekapannya. Waktu telah menggerus segalanya, dan tanpa gadis itu sadari hati itu telah menyatu dengan hatinya. Dengan setia gadis itu menjaganya. Namun, gadis itu tetap tak tahu mengapa dia harus menjaga hati ini dan milik siapa hati ini.
Dalam batin si gadis bertanya, “ Mengapa aku harus menjaga hati ini? Mengapa aku masih mendekapnya di dalam dekapanku? Apa aku terlanjur mencintai hati ini? Apa aku terlanjur setia kepada hati ini? Hingga seolah-olah aku tak lagi mempersoalkan mengapa Dewa menitipkannya padaku. Apa karena cintakulah hati ini tetap kujaga? Dan dengan alasan kepedulianku aku masih menjaga hati ini?”
Kegelisahan, keresahan, dan kekesalan yang saya alami akhir-akhir ini membuat saya menumpahkannya pada tulisan, baik di buku diary, pada postingan blog, bahkan status di facebook. Sebenarnya semua itu bukan berarti saya mau show off, namun hanya dengan sarana itu saya bisa melakukannya dan ada sedikit kelegaan ketika saya bisa menorehkan kata-kata itu . Di status facebook saya akhir-akhir ini selalu bertuliskan “NO COMMENT!”, “sedang mencari jalan keluar…”, “mencari celah baru…semoga berhasil!” seolah-olah begitu banyak tanda tanya yang tidak bisa saya jawab. Begitu banyak keinginan, impian dan harapan yang ingin saya raih, namun juga ada masalah-masalah yang membebani pikiran saya hingga saya bingung dan tak tahu harus bagaimana.
Dari status di facebook yang saya tulis itu ternyata mengundang simpati dari salah satu teman di web community tersebut. Sebenarnya saya sih nggak minta simpati dari orang lain, apalagi meminta orang lain berkomentar atas apa yang saya rasakan. Cuma saya merasa kok ada yang masih peduli atas apa yang saya alami, walaupun dia nggak tahu persis apa yang sedang saya alami saat ini. Jadi, mungkin itu kali gunanya facebook sebagai sarana berkomunikasi dan berinteraksi dengan sesama di dunia maya, dan menurut saya memang menguntungkan.
Setelah ngobrol-ngobrol lewat web community tersebut, dia mengirimkan pesan cerita tentang The Alchemist. Membaca pesannya seolah-olah saya sedang didongengi oleh nenek saya pada waktu saya kecil dulu, karena setelah nenek saya mendongeng beliau selalu menyampaikan pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari cerita tersebut. Ada ketenangan dalam batin saya setelah membaca pesan cerita tersebut. Ada pesan yang bisa saya ambil untuk hidup saya termasuk dalam menghadapi pergumulan yang sedang saya alami saat ini. Pesan cerita yang teman saya kirimkan kepada saya seperti ini…
Anggun, aku tak tahu apa yang tengah kaucari. Tapi cerita ini bisa kau renungkan.
Paulo Cuelho adalah penulis Brazil yang sangat populer setelah menulis The Alchemist. Di kamus, alkemis adalah orang yang punya kepandaian seperti filsuf dan paham alkimia, dan bisa mengubah logam menjadi emas.
Kisah terjadi di Spanyol (kalau tak salah Tenerife) dengan tokoh anak lelaki penggembala bernama Santiago. Bocah ini biasa menggembalakan domba secara berkeliling, mencari padang-padang rumput.
Suatu malam, dia dan domba-dombanya bermalam di sebuah puing gereja tua. Dia tidur di bawah pohon sikamor dekat altar. Di situ dia bermimpi bahwa ada harta karun di bawah sebuah piramida di Mesir. Dia tak percaya, tapi tetap pergi ke peramal. Si peramal meminta bagian kalau mimpi itu jadi kenyataan. Sebenarnya Santiago ragu-ragu. Sebab, dia terpikat pada anak gadis pembeli bulu domba tempat Santiago biasa menjual bulu dombanya. Akhirnya dia pergi setelah menjual semua dombanya. Uang itu dia pakai untuk menyeberang ke Maroko. (Dari Tenerife ke Maroko hanya menyeberang Selat Gibraltar atau Jabaltarik). Dari Maroko dia akan melakukan perjalanan darat ke Mesir. Di Maroko, dia ditipu seseorang. Uangnya ludes dan dia menyesali keputusannya pergi. Frustrasi, dia melihat sebuah toko antik yang menjual barang-barang dari kaca. Dia mencoba peruntungan dengan menawarkan diri sebagai pekerjanya. Si pemilik yang kebetulan lagi sepi jualannya tak segera menerimanya. Tapi ia merasa Santiago membawa keberuntungan. Karena begitu si bocah gembala datang, datang pula beberapa pembeli yang berbulan-bulan tak pernah dirasakan si pemilik toko. Santiago hanya meminta bayaran sedikit yakni untuk ongkos kembali ke Spanyol. Dua tahun di situ dan si pemilik tak mau tidak membayar Santiago. Dan toko itu berkembang pesat karena banyak kafilah mampir. Ada percakapan yang menarik antara dia dengan pemilik toko perihal IMPIAN. Santiago bercerita ingin pergi ke Mesir tapi nasib malangnya hanya membuat dia jadi pelayan di situ. Si pemilik bercerita bahwa dia ingin naik haji ke Mekkah kalau ada uang. Tapi begitu dia punya uang dia tak menunaikan keinginan itu. Santiago bertanya,"kenapa tuan?" "Kalau saya pergi dan berhasil naik haji, saya tak lagi punya impian. Saya merasa hidup dengan impian itu."
Ya, itu menarik. Santiago sendiri akhirnya memutuskan untuk tak lagi bermimpi tentang harta karun di piramida. Dia berkehendak menjadi gembala lagi setelah bisa membeli domba dari bayarannya selama dua tahun. Dua tahun berlalu dan si bocah hendak kembali ke Spanyol, menjadi gembala dan menemui anak gadis si pencukur domba. Tapi ketika hendak pulang, di tengah jalan dia berpapasan dengan kabilah yang hendak ke padang pasir. Singkat cerita, dia ikut dalam karavan dan banyak kisah menarik terutama mengenai perang padang pasir dan kehidupan di oase. Pada suatu oase, dia bertemu Fatima, gadis Arab dan merasa jatuh cinta. Dia merasa telah menemukan harta karun yang dia cari. Dia ingin tinggal di situ dan menikahi Fatima. Tapi lalu dia bertemu dengan Sang Alkemis yang dengan pandangan-pandangan filsafatnya mendorong Santiago mewujudkan mimpinya pergi ke Mesir. Ada banyak peristiwa fantastis. Tapi singkatnya, Santiago pergi ke Mesir dengan membawa sebongkah emas yang dibuat Sang Alkemis. Sampai di sebuah piramida, dia mulai menggali. Lalu datang dua orang yang merampok emas miliknya.Dia tidak dibunuh, dan salah seorang perampoknya bertanya mengapa Santiago melakukan pekerjaan gila mencangkuli pasir piramid. Santiago menjawab, "Saya bermimpi ada harta karun di bawah piramida ini? Dua Perampok itu tertawa. salah seorang berkata, ''Bodoh benar orang yang melakukan perjalanan sangat jauh hanya karena mengikuti impiannya. Dua tahun lalu, saya tidur di bawah piramida ini, dan bermimpi ada harta karun di bawah pohon sikamor pada puing gereja tua di Spanyol. Tapi aku tidak bodoh untuk pergi ke sana."
Mendengar itu, Santiago yakin, di mana dia harus mencari harta karun itu. Dia pulang ke Spanyol (tidak diceritakan prosesnya tapi pembaca bisa membayangkan kesulitan yang dia alami). Dan benar, di bawah pohon sikamor ada tumpukan harta karun. Sekian ratus keping mata uang kuno emas, sebuah topeng emas, dan lain-lain yang merupakan peninggalan zaman Inquistadores (zaman ketika Spanyol melakukan invansike beberapa negara di Amerika Latin).
Dengan kekayaan itu, Santiago tahu ke mana harus pergi. ke Fatima, harta karunnya yang paling utama...
Bayangkan Nggun, bagaimana seandainya Santiago tidak ke Mesir, dia tidak akan tahu bahwa di bawah tempatnya tidur dan bermimpi tentang harta karun itulah sebenarnya harta karun itu. Ya, tapi untuk mendapatkan sesuatu orang memang mesti mencari, kalau dia tak mencari, tak bakal dia menemukan "HARTA KARUN" itu. Jadi, nggun. Ikutilah mimpi kita yang pasti tak mudah...
Yah, kira-kira seperti itulah pesan cerita yang dia kirimkan kepada saya. Membaca cerita itu hati saya mulai tergugah dan semangat saya mulai bangkit untuk meraih impian saya. Saya mulai berpikir banyak jalan yang harus saya jalani dan hadapi di dalam hidup ini. Dan orang-orang yang tidak sengaja saya temui di dunia ini, baik di dunia nyata ataupun dunia maya adalah memang orang-orang yang juga sangat berarti di dalam hidup saya.
Jadi, inti cerita dan pelajaran yang dapat saya petik dari kisah The Alchemist tersebut adalah bahwa mimpi yang kita anggap sebagai bunga tidur itu sebenarnya bisa menjadi kenyataan jika kita mau berusaha untuk mencari dan mencapainya. Dengan semangat dan doa pastinya, tanpa kita sadari mimpi kita bisa menjadi kenyataan. Dan tetap yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.
Demam...saya lagi demam saat ini. Demam saya selain dalam arti yang sebenarnya alias saya memang sedang sakit demam, flu, batuk, dan pilek (komplikasi banget!) saat ini, saya juga sedang demam dengan sesuatu. Demam basket... ya, tepatnya saya sedang menyukai pertandingan basket. Ini karena seminggu ini saya harus meliput pertandingan Liga Basket Indonesia atau A Mild Cup 2008 IBL di Gor Sahabat Semarang. Sebelumnya saya tidak mengerti apa-apa dengan permainan ini. Sekarang saya sedang gandrung dengan basket. Hampir setiap hari mulai jam 3 sore hingga jam 10 malam saya menyaksikan liga basket tersebut dan pulang hampir jam 11 malam. Uuuhhh...capek banget apalagi dalam keadaan sakit dan tidak fit, tapi karena saya harus menjalankan tugas dan kewajiban, saya mau bagaimana lagi. Jujur saya juga menikmati pertandingan tersebut.
Melihat pemain men drible bola dan dilempar ke pemain lainnya kemudian dimasukan ke dalam ring. Pemain merebut bola dari lawan dan berstrategi akan dibawa kemana lagi bola itu untuk bisa mendapat poin bagi timnya.
Sedangkan sang pelatih di pinggir lapangan sibuk merotasi pemain, berteriak-teriak atau bahkan emosi karena anak didiknya bermain tidak sesuai dengan kehendaknya. Wasit yang ikut berlari kesana kemari mengawasi pemain yang melakukan kesalahan saat pertandingan itu berlangsung. Serta penonton atau supporter yang ikut menjerit-jerit menyemangati tim kesayangannya atau pemain idolanya, kadang saya dengar mereka juga berkomentar tentang permainan tersebut.
Setiap sore saya selalu bersemangat untuk menantikan pertandingan itu. Bahkan dalam membuat naskah berita pun semua bisa tertumpahkan dan terpuaskan karena terpengaruh demam itu. Oh ya...selain itu sebenarnya saya juga selalu menantikan pertandingan Tim Muba Hang Tuah Palembang, karena saya nge-fans dengan salah satu pemainnya yangbernomor punggung 9, namanya Hapsak Merdeka Putra. Huahahaha... soalnya Si Doi kece bangeeettt!!!. Sayang, kemarin adalah hari terakhir pertandingan liga basket tersebut dan saya tidak tahu kapan akan ada lagi pertandingan seperti itu di Semarang. But Now I’m still Fever...uhuuk...uhuuk...!!!
Nostalgia…saat ini saya sedang ingin bernostalgia. Kembali ke masa lalu, masa indah beberapa tahun lalu. Sekitar tahun 1997 sampai tahun 1999, saat saya masih duduk di bangku SMP. Indah, menyenangkan, dan penuh suka cita, sepertiitu yang saya rasakan pada waktu saat itu.
Berangkat sekolah diantar Papa dan turun di depan gang sekolah lalu jalan bersama teman-teman menuju sekolah.
Menyapa Pak Wandi, penjaga sekolah yang selalu menjaga gerbang sekolahan. Lalu ke kelas berjumpa dengan teman-teman untuk membuat atau menyalin pekerjaan rumah teman yang sudah mengerjakan (kegiatan rutin untuk datang lebih pagi sebelum pelajaran dimulai, hehehe).
Bercanda dan ngobrol dengan teman sebangku saat pelajaran yang gurunya membosankan. Minta ijin ke belakang padahal nggak ngapa-ngapain disana lalu kembali lagi ke kelas.
Kumpul dengan teman-teman, membicarakan sesuatu atau sekedar ngerumpi dan ngobrol di jam istirahat sambil menikmati siomay dan es sirup di Kantin Biru. Atau menunggu gebetan lewat di depan kelas.
Pulang sekolah mengejar Bus Umbul Mulyo dan membayar ongkos hanya dengan 100 perak.
Membaca komik-komik jepang, Novel LUPUS, Majalah GADIS dan ANEKA YESS!.
Persami Pramuka di Gedong Songo saat kenaikan kelas dua.
Mendengarkan lagu-lagu milik PADI, SHEILA ON 7, WONG, DEWA19, POTRET, MICHAEL LEARNS TO ROCK, Backstreet Boy, Boy Zone, Savage Garden, AQUA dan lain-lain.
Nonton konser musik Band Sheila On 7 yang lagi naik daun pada waktu itu di Plasa Simpang Lima.
Saya yang waktu itu belum tahu apa-apa, masih polos, culun dan lugu, masih belum tahu arti cinta sebenarnya, kadang tersenyum sendiri jika mengingat masa itu.
Jika mengenang itu, ingin rasanya bertemu kembali dengan guru-guru, teman-teman, Novi, Indri, Arum, Mona, Jihan, Renny, Ria, Puspa, Aldi, Adriyan, Rizki, Andreas, Agus, Anjar dan yang lainnya. Untuk reuni atau kumpul-kumpul bareng.
Masa itu memang indah, bahkan sangat indah. Masa yang tidak mungkin terlupakan begitu saja walaupun waktu terus berjalan. Pengalaman manis pahit pernah aku rasakan di masa itu.
Hmmm…sayang waktu tidak dapat diputar kembali, jarum jam pun tidak akan berputar berlawanan arah. Saya hanya bisa mengenangnya di dalam benak dan hati saya.
Saya benar-benar merindukan masa indah itu saat ini…Saya kangen pada kalian semua.
Sepertinya ramalan bintang yang Tasya baca di majalah semalam memang benar. Ramalan itu bilang,
Keberuntungan : Biarkan kreatifitasmu bekerja, terbukalah pada hal-hal dan pengalaman baru yang bakal kamu temui saat ini.
Hari baik : Kamis
Warna : Putih
Awalnya Tasya memang tidak peduli dengan ramalan itu, tapi hari ini ramalan itu memang terbukti benarnya.
***
Setiap pagi Tasya selalu menyambut hari dengan senyum dan berterima kasih pada TUHAN karena masih diberi kesempatan untuk menikmati hari dengan kebahagiaan. Tasya bersiap-siap untuk berangkat ke kampus seperti biasa.
“Ma…Tasya berangkat dulu ya?, Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam,Ya…hati-hati di jalan dan jangan lupa berdoa, Nak!”
Dengan mengendarai sepeda motor di jalan Tasya berdoa dan berkonsentrasi di perjalanannya menuju kampus. Dia tidak membayangkan apa yang akan terjadi dengan hari ini, ia hanya berharap semoga tidak terjadi apa-apa dan baik-baik saja.
Sesampainya di kampus, ternyata kuliah jam pertama kosong karena sang dosen berhalangan hadir dan hanya menitipkan tugas untuk dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Tasya tak tahu harus menyesal atau senang karena tidak ada kuliah. Akhirnya Tasya memutuskan ke kantin kampus untuk sekedar minum es teh atau es jeruk sambil ngobrol dengan teman-temannya atau mengamati tingkah laku anak-anak kuliahan tingkatawal. Sesampainya di kantin ternyata Tasya tidak menemukan teman-temannya disana, mungkin mereka sudah pada ngacir ke Mall atau kemana mumpung tidak ada kuliah. Namun, mata Tasya menangkap sosok yang duduk di pojok kantin sambil membaca buku, dan sosok itu sangat menyadari kedatangan Tasya.
“Tasya…kamu cabut ya dari kuliah, kok pagi-pagi udah di kantin?, hayo aku bilangin lho ke dosenmu…”
Hati Tasya tiba-tiba berdebar hebat, keringat dingin mengucur dan dia tak bisa mengeluarkan kata-kata untuk menjawab pertanyaan dari sosok itu. Tasya benar-benar nervous. Sosok itu adalah Zacky, senior Tasya di kampus. Bisa dibilang Zacky adalah gebetan dan cowok idaman Tasya saat ini. Awalnya perasaan Tasya kepada Zacky biasa saja. Tasya mengenal Zacky sejak masa Ospek, dimana Tasya menjadi mahasiswa baru dan Zacky menjadi senior yang memberikan pengarahan kepada para mahasiswa baru. Zacky kakak senior yang baik dan ramah kepada adik-adik juniornya. Kita sering berdiskusi dengannya tentang masalah apapun, dan tak tahu kenapa tiba-tiba Tasya menaruh perasaan kepada Zacky. Tasya yakin Zacky tidak tahu perasaannya, karena Tasya berusaha menutupinya dengan bersikap biasa saja saat di dekat Zacky. Zacky yang care, baik kepada siapa saja, sopan, santun, pintar,pengertian dan sangat menghargai perempuan. Itu alasan kenapa Tasya bisa jatuh cinta kepada Zacky. Tasya memang baru saja menyadari bahwa Zacky ‘ada’, karena selama ini pikiran Tasya dipenuhi denganmemikirkan hal-hal lain selain Zacky.
“ Eh, Mas Zacky… lha kamu sendiri lagi apa di kantin pagi-pagi?”
“Oh aku memang nggak ada kuliah, mata kuliahku sudah habis dan tinggal ngurus skripsi”, kata Zacky.
“ Berarti hari ini kamu nggak ada agenda nih?”
“Gimana klo kita pergi jalan-jalan?”
“Kemana?”
“Eemm…ke pantai yuk? Melihat samudra yang luas dan mendengar deru ombak, siapa tahu kita dapat inspirasi dan ide-ide baru disana. Udah lama juga kan kita tidak berdiskusi.” Ajak Zacky.
Dalam hati Tasya, “ini adalah pengalaman pertama Tasya pergi dengan Zacky, mo kemana aja sih asal bisa sama Zacky dan bisa mengenalnya lebih dekat nggak masalah”
“Tasya, maaf ya aku boncengin kamu dengan motor buntutku?”
“Ah, nggak apa-apa mas…santai aja kali!”
Dalam perjalanan hingga saat di tepi pantai kami mengobrol banyak sekali, saling bertukar pikiran, berdiskusi tentang banyak hal, baik tentang hidup, pengalaman, dunianya, dan duniaku. Aku nyaman berada didekatnya, bagai merasakan sejuknya embun pagi. Mencoba mengertinya dan memahami karakternya. Menatap wajahnya dari dekatnya, seakan aku tak percaya bahwa dia berada di dekatku dan dekat sekali. Suara burung dan debur ombak menjadi saksi kebersamaan kami. Indah…itu yang bisa kurasakan saat ini. Pengalaman yang memang tak bisa terlupakan dan semoga tidak hanya sampai disini saja.
***
“Tasya…makasih ya mau menemaniku seharian ini”
“Semoga ada kesempatan untuk pergi denganmu lagi”, kata Zacky
“Iya, sama-sama mas…sampai jumpa”
“Hari ini memang hari yang indah, hari keberuntunganku yang tak bisa tergantikan oleh apapun”, ujar Tasya.
Setelah itu dalam perjalanan pulang ke rumah, Tasya jadi ingat akan ramalan bintang itu dan Tasya berpikir memang adakalanya kita perlu percaya dengan hal-hal seperti itu atau mungkin ini memang rencana TUHAN YANG MAHA BAIK kepada Tasya. Tasya tersenyum dalam hati, semoga Zacky memang lelaki baik seperti yang Tasya harapkan dan idam-idamkan.
Semoga aku masih bisa melewatkan masa separuh putaran bumi
Jalanku tak panjang mungkin untuk bisa menuai waktu bersama dirimu
(Jalanku Tak Panjang-Ari Lasso)
Setiap kali mendengarkan lagu ini, Hani selalu teringat kenangan beberapa tahun lalu bersama Raditya. Kisah cinta yang dijalin bersama Raditya memang indah, tapi kisah itu hanyalah sebuah kisah cinta terlarang dua anak manusia. Lagu itu bagi Hani sangat membekas dihatinya, selain indah isi syairnya,lagu ini selalu mengalun setiap kali dia pergi bersama Raditya pada waktu itu. Ini lagu kesukaan Raditya, itu yang selalu diingat Hani.
“dengerin deh Han, lagu ini bagus banget…”
“selain liriknya indah, instrumen musiknya juga keren”
“aku suka banget dan nggak bosan memutarnya berkali-kali”, kata Raditya.
Hani tidak berkomentar, tapi dia selalu meresapi isi lagu ini. Bahkan dia pun berusaha mendownload lagu ini untuk didengarnya setiap saat. Bukan hanya untuk didengarnya saja, tapi juga mencoba mengerti Raditya lewat lagu ini.Menjalin hubungan dengan Raditya saat itu memang tidak mungkin bisa dipercaya, karena status Raditya adalah seorang pria beristri. Hani sangat menyadari hal itu. Pernah Hani bilang kepada Raditya bahwa kisah cinta ini terlarang dan tidak mungkin terjadi, tapi Raditya bilang,
“Ah klo aku ga aku lakukan, maka aku ga bisa berkembang Han…”
“kamu beda dengan cewek pada umumnya”
“aku suka kamu, karena kamu mempunyai pribadi yang stabil, smart, dan berwawasan luas”
“kamu punya inner beauty yang belum tentu cewek lain punya, maka dari itu aku jatuh cinta kepadamu”
“aku nggak mungkin mempermainkanmu, karenaaku sejak awal tulus menyayangimu”, kata Raditya berusaha meyakinkan Hani.
Hani yang saat itusedang menata hatinya karena baru putus dengan kekasihnya yang telah meninggalkan luka begitu dalam. Hani yang sedang rapuh dan butuh cinta, kasih sayang, serta perhatian. Akhirnya luluh dengan rayuan Raditya yang telah membiusnya. Walau terkadang hatinya masih bimbang.
***
Sejak mengenal Raditya hari-hari Hani menjadi penuh warna, ia menemukan semangat hidup yang baru. Perhatian dari Raditya membuatnya berbunga-bunga. Selalu ada harapan dan kebahagiaan setiap bertemu dengan Raditya. Namun seiring berjalannya waktu hubungan yang tidak jelas ini menjadi semakin tidak jelas. Hati Hani menjadi tersiksa, tertekan, dan gelisah. Hani jadi ingat ketika waktu itu ia pernah mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya pada Raditya.
“Radit, aku menyayangimu…aku tak bisa menggunakan logikaku bahwa kau milik orang lain, aku benar-benar jatuh cinta padamu”
“Aku sangat simpatik dan kagum padamu, kau pintar, cerdas, dan punya banyak pengalaman yang bisa kau bagi kepadaku”, kata Hani pada Raditya.
“aku tak seperti yang kau kira, kau belum mengenalku…biarlah waktu yang akan menjawab”, jawab Raditya dengan enteng.
Hati Hani sangat kecewa,seperti dijungkirbalikkan 180 derajat dan dihantam godam. Ketulusan cintanya seperti dikhianati. Dalam hatinya bertanya, “Apa Raditya telah berubah pikiran kepadanya?”
“Apa aku tidak seperti yang dibayangkan Raditya?”
“Apa Raditya hanya ingin bermain-main dengan perasaanku dan menjadikan diriku percobaan untuk mencari pengalaman?”
Begitu banyak tanda tanya di dalam hati Hani tentang apa yang ada di dalam pikiran Raditya. Setiap meminta penjelasan kepada Raditya, ia selalu menghindar. Seakan tidak bertanggung jawab dengan reaksi tindakannya itu. Luka di dalam hati Hani kembali menganga. Radit tidak pernah merasakan kegelisahan hati Hani setiap memikirkannya, merindukannya, dan menginginkan Radit disampingnya.Namun, Hani mencoba bersabar.
***
Suatu ketika…
“Radit, aku takut untuk melanjutkan hubungan ini, aku takut KARMA…”
“aku tak bisa membayangkan TUHAN akan memberikan balasan itu kepadaku suatu saat nanti”
“aku tak mau menyakiti orang lain, aku tak tega melihat kesetiaan istrimu dan keceriaan anak-anakmu terkhianati dengan hubungan kita.” Hani berusaha menyampaikan maksudnya kepada Raditya walaupun setengah tidak rela melepas Raditya, karena Hani masih menyimpan rasa sayang kepadanya.
Tapi Raditya malah berkata, “klo begitu kau harus menghindariku, tapi aku tak bisa mengingkari rasa ini setiap kita bertemu dan bertatapan denganmu”
Setengah kaget Hanibertanya dalam hati,”aku…aku…kenapa harus aku yang harus menghindarinya, bukannya dia yang memulai kisah cinta ini?” Begitu tega Radit berkata seperti itu kepadaku. Tapi dalam hati Hani berpikir “Jika tidak sekarang, maka tidak selamanya”. Keputusan Hani sudah mantap untuk mengakhiri kisah cinta ini sesuai keinginan Raditya. Hani memilih untuk mengalah, karena Hani tidak ingin menunggu hingga TUHAN lebih murka kepadanya.
***
Manis pahit kisah cinta terlarang Hani denganRaditya kini hanya sebuah kenangan beberapa tahun lalu. Hani memilih dan memutuskan untuk mengalah. Merelakan Raditya bahagia bersama keluarga yang dia cintai dan tak mungkin dia lepaskan. Dari pengalaman yang Hani dapatkan, kini Hani lebih tegar menghadapi apapun dan mengambil hikmah dari semua yang telah terjadi. Hani tetap masih memilih untuk sendiri, karena Hani merasa lebih bahagia seperti saat ini. Hani tetap memohon agar TUHAN mengampuni dosa-dosanya di masa lalu dan menjauhkannya dari karma. Hani ingin menjadi perempuan baik-baik yang dihargai oleh semua orang. Hani hanya berharap semoga suatu saat nanti ia akan bertemu dengan seseorang yang bisa membuatnya lebih bahagia dalam hidupnya daripada saat ini.
(Untuk seseorang yang menjadi inspirasiku dan selalu mengajariku tentang kejujuran dalam menulis…Thank you so much for everything!)
Sepenggal bait dalam lagu Ruang Rindu yang dipopulerkan oleh Letto, Sebuah Group Band yang bersahaja dari Kota Yogya ini membawa saya pada kenangan masa lalu dengan orang-orang yang saya cintai dan sayangi. Namun kini, mereka telah meninggalkan saya. Baik mereka pergi entah kemana hingga pergi untuk selama-lamanya untuk menghadap Sang Kuasa. Saya menyadari bahwa hidup ini selalu ada PERJUMPAAN dan PERPISAHAN, hingga saya merasakan rasa memiliki tapi juga kehilangan. Walau begitu saya hanya punya harapan saya bisa bertemu dengan mereka di ruang rindu.
Dalam kisah hidup saya, saya sangat bahagia dipertemukan dengan teman-teman di jaman saya masih sekolah (dari Taman Kanak-kanak hingga Kuliah). Saat kita merasa cocok dan bisa memahami satu sama lain saya harus dihadapkan dengan acara perpisahan. Acara yang sangat saya tidak harapkan karena pasti ada air mata saat acara tersebut, saya harus berpisah dengan mereka dan tidak bisa melewati hari-hari saya dengan mereka.
Perpisahan yang mengalir begitu saja hingga saya akhirnya sadar bahwa dia telah pergi entah kemana adalah ketika saya harus berpisah dengan cinta pertama saya pada waktu saya duduk di sekolah menengah pertama. Dia adalah cinta pertama saya yang saya taksir dari kelas 1 cawu 2 hingga saya duduk di sekolah menengah atas kelas 3. Memang cukup lama saya menyukainya walaupun kami tidak sempat jadian, tapi saya cukup bahagia bisa bersamanya selama itu sebagai temannya. Bahkan saking saya sayangnya saya dengan dia, selama itu saya tidak pernah menerima cinta atau mencintai orang lain selain dia. Banyak kesan dan kenangan indah selama saya mengenalnya, tapi tiba-tiba saya harus kehilangan jejaknya. Saya tak tahu dia sekarang dimana, pernah saya mencoba mencarinya tapi hasilnya nihil. Kadang saya rindu saat saya terkenang pada masa-masa itu.
Perpisahan yang begitu menyesakkan di dalam hidup saya adalah saat saya harus berpisah dengan Eyang Uti dan Eyang Kakung saya pada tahun 2003. Kenapa begitu menyesakkan, karena mereka pergi untuk selamanya dalam waktu yang berdekatan. Eyang Kakung saya meninggal dalam waktu 100 hari setelah Eyang Uti saya meninggal. Apalagi mereka meninggal saat waktu mendekati Hari Raya Idul Fitri. Lebaran tahun itu rasanya begitu sangat hampa dan tidak berkesan sama sekali tanpa mereka. Saya sangat sedih ditinggal dan harus berpisah dengan mereka, karena mereka adalah orang yang sangat saya sayangi dan cintai. Saya tinggal dan sangat dekat dengan mereka sejak saya kecil. Perhatiannya banyak tercurah kepada saya karena bisa dibilang saya cucu kesayangan mereka, hingga membuat iri cucu-cucu yang lainnya. Hingga saat ini saya kadang merasa menyesal belum bisa membahagiakan dan membalas jasa mereka, sekedar menyenangkan mereka dengan hasil keringat saya sendiri. Banyak kenangan, nasehat, dan petuah-petuah hidup yang tidak mungkin saya lupakan untuk menjalani hidup ini hingga akhir hayat saya.
Perpisahan yang juga membuat saya sedih adalah ketika Budhe saya, Budhe Titik meninggal dunia. Saya sedih tidak hanya sekedar rasa sedih karena Budhe saya meninggal, tapi karena melihat perjalanan hidupnya yang membuat hati saya miris. Jatuh bangun dalam hidup yang beliau lalui dan kadang di pandang sebelah mata oleh orang lain yang tidak tahu akan sebenarnya yang terjadi dengan dirinya, membuat mata hati saya terbuka dan menilai hidup ini tidak adil bagi beliau. Sungguh aku sampai tidak bisa berpikir begitu berat cobaan hidup yang ditanggungnya.
Akhirnya saya menyadari bahwa mereka yang pernah singgah di dalam hati dan hidup saya adalah mereka orang-orang yang sangat berarti sekali bagi saya. Saya harus sadar dan siap menerima dengan adanya PERJUMPAAN dan PERPISAHAN di dalam hidup ini. Siap untuk kehilangan orang-orang atau apapun yang saya miliki, walau itu merupakan kesayangan dan kecintaan saya. Saya pernah memiliki maka saya harus siap kehilangan juga. Namun saya masih bersyukur karena masih ada Ruang Rindu untuk mengenang dan bertemu mereka, walau itu hanya dalam mimpi.
My Life is My Love, My Happiness, My Pain, My Soul, My Dreams and My Imagine...
The Real Me
It's Me: ANGGUN PUSPITA Live at: Semarang, Jawa Tengah, Indonesia Just to Say: Saya orang yang apa adanya dan ga suka yang neko-neko...saya tidak peduli dengan penilaian atau yang orang pikirkan tentang saya, karena saya hidup tidak dengan penilaian mereka.That's it!! Let's See My Profile
..QUOTES..
Life is a blank page. Each person holds their pen and writes their own story.